Diusia yang baru satu tahun Dewan Riset Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah  memberikan hasil terbaik untuk inovasi teknologi dibidang perendaman, pencucian dan pengupasan lada dan yang menariknya lagi, riset yang telah dilakukan mampu memenangkan riset kompetitif dana di Kementerian Riset dan Teknologi Nasional.

"Provinsi melalui Dewan Riset sudah mampu menunjukan diri dalam hal inovasi yang telah melahirkan teknologi yang bermanfaat dan memiliki daya saing, ini merupakan hasil karya anak bangsa dan bermanfaat dalam bidang Lada, dalam hal perendaman, pencucian  pengupasan untuk itu perlu suport dari OPD terkait". Ungkap Wakil Gubernur Abdul Fatah saat membuka   acara Seminar Nasional di Gedung Mahligai, Serumpun Sebalai pada Kamis (13/12).

Seminar Nasional ini diikuti oleh OPD yang ada dilingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan harapan riset yang telah dilakukan dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh OPD terkait sehingga apa yang dihasilkan dapat berjalan sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.

Menurut Wagub, Inovasi ini dapat langsung diterapkan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Bangka Belitung dengan mensosialiasikan temuan ini dengan  mengundang kelompok kelompok tani lada yang ada di Babel, sehingga cara dengan menggunakan teknologi yang ditemukan oleh dewan riset ini dapat mempermudah petani lada di Babel.

Menurut DR. Wahyudi, yang melatarbelakangi riset ini disebabkan oleh jatuhnya harga lada dipasaran, dan terus menurunnya mutu lada, serta kurangnya geliat petani untuk menanam lada.

Riset ini melibatkan dua kelompok tani yakni Kelompok Tani Karya Maju dari Desa Petaling Banjar dan Kelompok Tani Maju Desa dari Simpang Rusa Membalong.

Lebih jauh selama ini dari hasil riset mengatakan, menurut petani terjadi permasalahan pasca panen jika dilihat dari perendaman kondisi perendaman selama ini tidak layak, dan  juga petani mengelupas kulit lada secara manual dengan menggunakan tangan dan berendam didalam air sehingga dapat terserang malaria, tipus, kuku rusak dan tubuh pedas dan panas selain itu jika dilihat dari proses penjemuran selama ini dilakukan ditepi jalan sehingga lada tercampur debu.

Adapun solusi untuk mengatasi masalah ini akan dibuatkan kolam rendam yang mengalir, pembuatan mesin pengelupas kulit,biji dan tangkai lada, pembuatan lantai jemur dengan solar dry dan pengembangan mesin mesin pengelola produk turunannya.

Melalui riset ini ada kemajuan yang diperoleh jika dilihat dari sektor ekonomi, sebelumnya masyarakat lesu memanen lada karna harga lada berada dikisaran Rp.50.000 per kg, pengelolaan pasca panen yang sulit, mutu lada bagus dan lada biasa pun berada di harga yang sama.  Sesudah riset pendapatan petani meningkat, kualitas mutu naik harga naik, penelupasan dan penjemuran telah menggerakan kelompok tani.

Wahyudi berharap dengan adanya teknologi yang ditemukan untuk membantu petani ini dapat memberikan semangat baru untuk petani lada di Bangka Belitung guna  untuk mengengembalikan kejayaan lada.